UPT BLK Kediri Berikan Pelatihan Menjahit Cetak Wanita Mandiri

Bagikan

Foto bersama peserta pelatihan dan instruktur kejuruan menjahit pakaian dengan mesin

Kediri, Radar Independen – Balai Latihan Kerja (BLK) Kediri terus berupaya meningkatkan keterampilan masyarakat melalui berbagai program pelatihan menjahit. 

Pelatihan menjahit berlangsung di kantor Unit Pelaksana Teknis Balai Latihan Kerja (UPT BLK) Kediri Jalan Pare-Wates KM. 1,5 Desa Gedangsewu Kec.Pare Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jumat (11/4/2025)

Nely Zulfa Nofitasari, S.Pd selaku Instruktur Fashion Teknologi  mengatakan bahwa untuk pelatihan menjahit materi yang diajarkan sesuai program K3, mengukur pelanggan, membuat pola, memotong kain, menjahit, pressing penyelesaian dengan jahitan tangan dan menghias busana.

Zulfa menjelaskan yang membedakan pelatihan menjahit di BLK Kediri pakai standar industri. Program materi dasar yang disesuaikan pelatihan fokus menjahit rok dan blouse atau satu stel baju perempuan.

“Nanti kalau waktunya masih cukup kita berikan pelatihan menjahit kemeja. Waktu pelatihan 33 hari ada giat baris berbaris, soft skill dan sosialisasi narkoba 28 jam pelatihan dan sisanya untuk pelatihan,” ucapnya.

Lanjut Zulfa untuk pelatihan menjahit lebih banyak ke praktek dengan perbandingan 70 persen praktek sisanya teori. 

“Seluruh peserta pelatihan menjahit akan mendapatkan sertifikat dari BLK dan mengikuti UJK dari LSP, namun yang menentukan lulus dan kompetensi BNSP,” ujarnya.

Antusias peserta mengikuti pelatihan

Menurutnya peserta usai mendapatkan pelatihan menjahit di BLK Kediri, mereka membuka jasa permak dan ambil jahitan seragam. 

“Kalau peserta yang masih muda biasanya kerja di perusahaan, karena kalau ingin ilmunya bertambah mencoba bekerja di perusahaan agar tahu teknik  lain dan memiliki teknik yang menghemat kain,” ujarnya.

Saya berharap kepada peserta pelatihan menjahit tidak muluk-muluk paling tidak bisa mendapatkan income dan bisa menghidupi dirinya sendiri.

“Karena kebanyakan perempuan kalau tidak bekerja dianggap beban, paling tidak mereka bisa mencukupi untuk kebutuhan sendiri,” harapnya.

Salah satu peserta Susi Andayani asal Desa Sumber Cangkring Kecamatan Gurah mengaku setelah mendapatkan ketrampilan menjahit di BLK Kediri menerima jahitan seragam para santri-santri pondok Gontor.

“Dikarenakan, rumahnya dekat dengan pondok Gontor banyak siswi dari pondok yang datang ke rumah untuk menjahit seragam. Sebelum ikut pelatihan disini banyak santri yang minta  jahitkan seragam, belum berani karena belum tahu teknik jahit dan bikin pola. Jadi  selalu ditolak, harapannya bisa membantu santri ketika ada seragam yang sobek atau seragam yang belum dijahit,” ungkap Susi. (Adv)


Bagikan